Kamis, 02 Juni 2011

Seminar "Brainwashing dalam Perspektif Psikologi"



Psikologi baru saja menyelesaikan satu lagi kegitannya.  Yaitu, satu diskusi tentang “Brainwashing dalam Perspektif Psikologi”.  Acara dilakukan Selasa, 31/5/11, ruang multimedia, Kampus A, Universitas Jayabaya, Pulo Mas, Jakarta.

Berawal dari kasus yang dilakukan oleh sebuah organisasi dengan menamakan diri NII, yang oleh banyak media disebut dengan brainwashing atau pencucian otak, maka kami memutuskan untuk mengambil tema tersebut, yaitu brainwashing di bahas dalam perspektif psikologi.  Nah, sebenarnya apa si yang dimaksud brainwashing?.  Pembicara kita kali ini adalah Drs. Widura Imam Moestopo M.si, seorang Psikolog sekaligus militer.

Menurut beliau, brainwash memiliki pengertian, persuasi kohesif atau ajakan yang memaksa, yang dilakukan secara sistematis terhadap individu untuk merubah kepercayaan (belief), sikap dan nilai-nilai lama dari individu sesuai tujuan.  Biasanya berhubungan dengan politik dan agama.  Dalam hal ini mereka menggunakan teknik-teknik tertentu yang dirancang untuk memanipulasi pikiran atau tindakan yang berhubungan dengan dorongan, keinginan atau pengetahuan individu.

Jadi brainwashing adalah persuasi dengan cara memaksa.  Namun, beliau menggarisbawahi bahwa, persuasi dan brainwash berbeda, tapi beberapa teknik persuasi ditemukan pada tindakan brainwashing

Brainwash sendiri, bukan merupakan istilah dari psikologi atau konstruk psikologi, tapi istilah yang muncul menjadi bahasa umum melalui karya wartawan Amerika, seorang ahli Timur, Edward Hunter.  Istilah tersebut menjadi populer karena publikasi media massa ketika menggambarkan perlakuan terhadap tentara Amerika di kamp Cina selama perang Korea di tahun 1950.

Dijelaskan oleh beliau, terdapat tiga karakteristik individu yang mudah mengalami brainwashing

1.      Individu dengan faktor psikis labil, seperti orang yang memiliki sifat peragu dan bingung terhadap identitas diri, tidak mandiri, dan orang yang banyak tahu tetapi tidak mendalami.
2.      Individu dengan psikologis yang sombong dan angkuh, mengapa? Karena biasanya individu seperti ini yang memiliki kepercayaan diri berlebihan merasa apapun yang ia percaya pasti benar tanpa di dukung pengetahuan luas dan mendasar, justru mudah dipengaruhi.
3.      Individu yang mengalami tekanan fisik dan mental.  Karena dengan kondisi seperti itu, individu tersebut jadi lelah, tidak berdaya, hingga mengurangi kemampuan berfikir sehingga akan dengan mudah di brainwash

Karakteristik di nomor pertama merupakan yang paling rawan terkena brainwash.  Umumnya mereka yang berusia 18-20 tahun adalah target.  Usia demikian adalah usia dewasa dini, merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan sulit, sehingga dengan keadaan sulit tersebut, mereka mencoba memperpanjang ketergantungan dengan mempertahankan siswa atau mahasiswa.

Pada diskusi tersebut, kita memiliki narasumber, namanya adalah Dyan Kemala Arrizqi.  Jika dihubungkan dengan kasus yang terjadi, setali tiga uang.  Ia membenarkan bahwa, target brainwash tersebut umumnya memang berumur antara 18-20 tahun.

Ada beberapa teknik umum yang dilakukan brainwasher terhadap target.  Diantaranya adalah dengan teknik Confession.  Teknik ini dilakukan untuk menghancurkan ego individu melalui pengakuan bahwa dirinya lemah dan secara mendalam mengakui bahwa dirinya penuh keragu-raguan.  Kemudian Guilt & Feel of Guilt.  Yaitu satu teknik dengan tujuan memperkuat kebutuhan untuk “keselamatan” (kpd pihak brainwasher) dengan meningkatkan rasa berdosa/bersalah terhadap gaya hidup dan hal-hal yang berhubungan dengan waktu sebelumnya.  Artinya target dibuat merasa bersalah, merasa apa yang telah dilakukan diwaktu sebelumnya adalah kesalahan yang sangat besar dan tidak boleh diulangi dan di dekati sekalipun.

Kemudian brainwasher juga memiliki langkah utama brainwash, yaitu dengan membuat target mengalami mental breakdown, mereka akan mengalami depresi berat dan disorientasi.  Mereka kehilangan pegangan realitas dan merasa benar-benar tersesat dan sendirian.

Jika brainwasher berhasil melakukan hal tersebut, akan terlihat dari langkah perubahan perilaku.  Target akan menjadi sadar bahwa ada kontrol dan ketergantungan terhadap orang lain, kemudian ia akan benar-benar tergantung, lalu akan menyebabkan konflik internal  serta gangguan pada pola perilaku sebelumnya, hingga ia merasa “menemukan” bahwa ada solusi  yang dapat diterima terhadap masalah yang dihadapi.  Jika sudah begitu brainwasher dan target hanya mereintegrasi nilai-nilai dan pengenalan terhadap sistem pengendalian.  Pada titik ini target siap dirampas, ia tidak paham dengan jelas siapa dia sebenarnya dan yang terjadi padanya.  Disnilah brainwasher menyiapkan tawaran untuk berpindah ke sesuatu yang ditawarkannya yang akan menyelamatkan target dari penderitaan.

Beberapa tips diberikan oleh beliau agar kita bisa bertahan dari brainwashing tersebut.
1.      Melawan “kontrol” dan kembangkan dorongan moril (semangat)
2.      Kenali tujuan realistik bagi diri
a.       Pribadi yang kuat
b.      Sikap tidak mudah menyerah sebagai prestasi
c.       Sikap realistik menyadari kelebihan dan keterbatasan diri
d.      Memiliki pengetahuan tentang brainwashing dan tujuannya
e.       Cara praktis mengenali tujuan spesifik brainwashing
f.       Mampu kendalikan tekanan dengan cara pelajari cara control reaksi diri terhadap tekanan yang spesifik.

Semoga bermanfaat.  Salam Satu Psikologi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar