Rabu, 29 Juni 2011

This Is It, Tri Putri and Renny Sarah !!!


Tri Putri Handayani



Renny Sarah Maulidya Putri




Tri Putri Handayani dan Renny Sarah Maulydia Putri akhirnya terpilih sebagai Ketua BPM dan BEM baru periode 2011-2012, setelah melalui proses panjang dalam musyawarah besar Mahasiswa Psikologi Jayabaya, Rabu, 15/6/11 lalu.

Jakarta — Hasil Musyawarah Besar Mahasiswa (MUBESMA) Fakultas Psikologi Universitas Jayabaya, Rabu, 15/6/11, telah menetapkan Tri Putri Handayani dan Renny Sarah Maulydia Putri sebagai Ketua BPM dan BEM baru periode 2011-2012.  Terpilihnya mereka berdua menggantikan periode sebelumnya yang dipimpin oleh Rizka Dwi Charisma dan Taufiq Fata Setyaji.

MUBESMA sendiri adalah satu forum tertinggi Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Jayabaya.  Acara yang dilakukan setahun sekali ini, merupakan MUBESMA tahun ke 8 sejak berdirinya Fakultas Psikologi Jayabaya. 

Acara berlangsung selama 4 jam, dimulai dari pukul 14.00 hingga 18.00 WIB.  Meskipun telah ditetapkan mulai pukul 14.00 WIB, acara molor hingga 30 menit lebih.  Hal ini disebabkan peserta musyawarah yang belum memenuhi qorum hingga 2/3 dari seluruh peserta.  Acara baru dimulai sekitar pukul 14.37 WIB. 

MUBESMA dimulai dengan pembacaan basmallah oleh Master of Ceremony dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di pimpin oleh Nevizha dari angkatan 2010.  Selanjutnya adalah sambutan dari PUDEK III Bidang Kemahasiswaan Ibu Dra. Esiyannera MM dan sambutan kedua dari DEKAN Psikologi Ibu DR. Dra. Renny H. Zainal MM, sekaligus bertindak sebagai pembuka resmi  MUBESMA 2011.

Acara terus berlanjut hingga pada acara inti pemilihan Ketua BPM dan BEM.

Pemilihan ketua BPM menjadi proses pemilihan yang pertama. Peserta musyawarah mengajukan sejumlah nama, diantaranya adalah M. Alfan Burhan S, Rebecca Napitupulu (angkatan 2007), Tri Putri Handayani, Magdalena (2008),  dan Renny Sarah Maulydia Putri (2009).  Kelimanya berhasil lolos dari kriteria yang ditentukan untuk kemudian menjadi calon ketua BPM.  Setelah melalui proses panjang karena banyak interupsi, akhirnya dilakukan pemilihan dengan cara voting.  Setelah ditentukan proses voting pun tidak lantas segera dilakukan pemilihan, peserta masih berdebat apakah dilakukan secara terbuka atau tertutup.  Pemilihan akhirnya dilakukan secara terbuka, Tri Putri Handayani dari angkatan 2008 terpilih dengan jumlah suara 70% dari peserta qorum.

Selanjutnya dilakukan pemilihan ketua BEM.  Proses pemilihan berlangsung cepat karena Renny Sarah Maulydia Putri seorang yang menjadi calon.  Ya, Renny menjadi satu-satunya balon dan calon ketua BEM hingga akhirnya ditetapkan menjadi ketua.

“Saya tidak menyangka dengan terpilihnya saya sebagai ketua BEM baru, karena sebelumnya saya jadi pimpinan sidang dan juga saya baru mengikuti organisasi mahasiswa.  Rasanya seperti ingin mengundurkan diri, tapi saya harus tetap maju”.  Ujar Renny, mengungkap keterkejutannya.

Pukul 17.55 WIB akhirnya Fakultas Psikologi telah memiliki pemimpin baru era 2011-2012.  Layaknya seorang pemimpin pasti ingin memajukan sesuatu yang dipimpinnya, begitupun dengan ketua BEM baru kita.  Harapan untuk masa depan Psikologi Jayabaya diutarakan olehnya.

“Terima kasih kepada teman-teman yang telah mempercayakan saya untuk menjadi ketua BEM periode 2011-2012, mudah-mudahan saya mampu untuk memajukan Psikologi Jayabaya kedepan, salah satunya dengan membuat program kerja yang bekerja sama dengan fakultas Psikologi universitas lain”.  Ungkapnya ketika ditemui selasa, 28/06/11 lalu, di sela kesibukannya sebagai ketua BEM baru.

“Kita semua berharap semoga terjalin komunikasi yang baik antar mahasiswa Psikologi, khususnya saya berharap bisa bekerja sama secara maksimal dengan BPM”.  Tambahnya.

Selain pemilihan, agenda lainnya adalah pemutaran film dokumenter program kerja BEM periode 2010-2011 dan  Laporan Pertanggungjawaban BEM periode 2010-2011.

Kemudian acara ditutup oleh pimpinan sidang dan pembacaan hamdallah pada pukul 18.00 WIB.

This is it, Welcome The New Leader Psychology of Jayabaya Tri Putri Handayani and Renny Sarah Maulydia Putri!!!

Senin, 27 Juni 2011

"Periodepun Telah Berganti" oleh Taufiq Fata Setyaji


Assalamualaikum wr wb.  Alhamdullillah segala puji kepada Allah karena rahmatnya-lah saya dapat menyelesaikan masa bakti saya dalam memimpin BEM Psikologi Universitas Jayabaya periode 2010-2011.  Banyak hal yang saya dapatkan selama saya memimpin, baik dalam bidang psikologi terapan maupun dalam berorganisasi dengan azas kekeluargaan, yang merupakan budaya dalam ORMAWA Fakultas Psikologi Jayabaya.  Dengan semangat kebersamaanlah saya terus mencoba membangun Psikologi UJ, sehingga program kerja periode ini dapat dilaksanakan dengan cukup baik, walaupun ada beberapa kekurangan yang saya rasakan.  Namun semuanya itupun tidak luput dari peran mahasiswa Fakultas Psikologi Jayabaya.
            Selama periode ini, saya merasakan bagaimana dinamika dalam berorganisasi, seperti halnya kawan-kawan yang menjabat di struktural BEMF Psikologi UJ.  Banyak kendala dalam mengembangkan ORMAWA ini, baik dari segi teknis maupun non-teknis.  Seperti halnya pendahulu saya, yang tak kenal lelah dalam memberikan kontribusi yang positif dalam mengembangkan ORMAWA ini.  Saya-pun dengan semangat memajukan yang berazaskan kekeluargaan, mencoba untuk memotivasi diri, sehingga dapat memberikan kontribusi yang positif hingga akhir masa jabatan saya selesai.   Saya harap kelak ORMAWA pada periode berikutnya dapat lebih mengaharumkan nama Psikologi UJ.Amin
            Sebagai seorang pribadi maupun pemimpin, banyak hal yang harus saya sikapi secara profesional dalam menempatkan diri.  Menurut saya pemimpin itu harus bisa bersikap profesional, jangan mencampurkan urusan pribadi dengan organisasi kemahasiswaan, sebaliknya-pun seperti itu, sehingga semua dapat berjalan secara selaras.  Selain itu, sebagai pemimpin harus memiliki mental baja dalam mengambil sebuah kebijakan, karena dalam mengambil sebuah kebijakan pasti ada pro dan kontra.  
          Selama saya menjabat menjadi ketua BEMF Psikologi UJ Periode 2010-2011, sudah tentu kebijakan-kebijakan yang saya ambil ada yang pro maupun kontra, dan perkenankan saya kepada kawan-kawan, mengucapkan mohon maaf sebesar-besarnya karena menurut saya sebagai pemimpin, kebijakan yang saya ambil itu merupakan konsekwensi yang terbaik.  Kebijkan itu semata-mata hasil dari musyawarah-mufakat.
            Terimakasih kawan-kawan Psikologi UJ yang telah membantu saya dalam melaksanakan program kerja, karena kalianlah program kerja dapat berjalan dalam satu periode kepengurusan saya dan karena kalianlah saya belajar apa arti dari sebuah keluarga.  

        Dengan segala hormat saya ucapkan banyak terimakasih kepada abang tercinta Ramlan Effendy Hasibuan calon suami dari Syafika Azmy,hehee…, yang telah mengajarkan banyak hal, baik dalam nilai kehidupan maupun berorganisasi. Dalem nyiwon pangapunten mawi wonten sikap dalem keng rayi ingkang mboten mranani penggalih dating panjenengan (sok ngerti jawa), hehehe.
Satu periodepun telah saya lalui, sehingga semua menjadi sebuah cerita yang bermanfaat untuk anak-cucu kita, bahwa banyak manfaat yang dapat saya ambil dalam menjalankan amanah ini. semoga kelak anak-cucu kita dapat melihat Psikologi Jayabaya semakin Jaya, Amin….

Salam satu Psikologi :)

Rabu, 22 Juni 2011

Albert Bandura

Albert Bandura

Tokoh teori belajar sosial yang terkenal adalah Albert Bandura (lahir pada tahun 1925). Dia adalah seorang psikolog berkebangsaan amerika lulusan universitas Stanford amerika serikat. Pada mulanya Bandura adalah psikolog beralira Behaviorisme, Bandura memandang bahwa tingkah laku bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R bond) melainkan juga akibat yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.

Asumsi utama teori belajar sosial  adalah bahwa orang melakukan perilaku dengan cara yang memungkinkan timbulnya penguatan. Penguatan yang mengendalikan ekspresi tingkah laku yang dipelajari bersifat :
-          Langsung yakni ganjaran nyata, dukungan atau celaan sosial pengurangan kondisi afersif
-          Dari orang lain, pengamatan terhadap orang yang serupa dengan perilakunya
-          Dilakukan sendiri, evaluasi tentang penampilan diri sendiri dengan memuji atau mencela diri sendiri

Menurut ahli teori belajar sosial, tindakan seseorang dalam situasi tertentu tergantung pada karakteristik khusus situasi tersebut, penilaian orang itu mengenai situasi tersebut, penguatan masa lampau terhadap perilaku dalam situasi yang serupa/pengamatan terhadap orang lain dalam situasi yang sama.

Dalam memprediksi perilaku seseorang dalam situasi tertentu ahli teori belajar sosial lebih menekankan makna penting perbedaan perkembangan kognitif dan pengalaman belajar sosial daripada trait motivasional (seperti agresi/ketergantungan) perbedaan individual yang berinteraksi dengan kondisi situasional untuk mempengaruhi perilaku :
-          Kompetensi
-          Strategi kognitif
-          Dugaan
-          Nilai-nilai subyektif
-          Rencana dan sistem pengaturan diri

PEMBELAJARAN

Satu asumsi paling awal dan mendasar teori kognitif sosial Bandura adalah manusia cukup fleksibel dan sanggup mempelajari beragam kecakapan bersikap maupun berperilaku, dan bahwa titik pembelajaran terbaik dari semua ini adalah pengalaman-pengalaman tak terduga (vicarious experiences).


Pembelajaran dengan Mengamati (Observational Learning)
Bandura yakin bahwa tindakan mengamati memberikan ruang bagi manusia untuk belajar tanpa berbuat apa pun. Manusia mengamati fenomena alam, tumbuhan, hewan, air terjun, gerakan bulan dan bintang, dan seterusnya, tetapi yang lebih penting bagi teori kognitif sosial adalah manusia belajar dengan mengamati perilaku orang lain.
Pembelajaran manusia yang utama adalah dengan mengamati model-model, dan pengamatan inilah yang terus-menerus diperkuat. Bandura (1986, 2003) yakin bahwa pembelajaran dengan mengamati jauh lebih efisien daripada pembelajaran dengan mengalami langsung.

Pemodelan
Inti pembelajaran dengan mengamati adalah pemodelan (modelling). Yaitu, pemodelan melibatkan proses-proses kognitif, jadi tidak hanya meniru, lebih dari sekedar menyesuaikan diri dengan tindakan orang lain karena sudah melibatkan perepresentasian informasi secara simbolis dan menyimpannya untuk digunakan di masa depan.

Faktor yang menentukan seseorang belajar dari model atau tidak, yaitu: Pertama, karakteristik model sangat penting. Kedua, konsekuensi dari perilaku yang dimodelkan dapat memberikan efek bagi pengamatnya.

Proses-Proses yang Mengatur Pembelajaran dengan Mengamati
Empat proses yang mengatur pembelajaran dengan mengamati:
  1. Perhatian: Pertama, memiliki kesempatan untuk mengamati individu yang padanya kita sering mengasosiasikan diri. Kedua, model-model yang atraktif lebih banyak diamati daripada yang tidak figur-figur populer di televisi, olahraga atau film sering kali diburu-buru beritanya.
  2. Representasi: Agar pengamatan dapat membawa kita kepada pola-pola respons yang baru, pola-pola tersebut harus direpresentasikan secara simbolis di dalam memori.
  3. Produksi Perilaku: Setelah memberi perhatian kepada sebuah model dan mempertahankan apa yang sudah diamati, kita akan menghasilkan perilaku. Untuk mengubah representasi kognitif menjadi tindakan yang tepat, kita harus menanyakan pada diri sendiri beberapa pertanyaan tentang perilaku yang dijadikan model.
  4. Motivasi: Pembelajaran dengan mengamati paling efektif ketika subjek yang belajar termotivasikan untuk melakukan perilaku yang dimodelkan.
  5.  
    ☻ Pembelajaran dengan Bertindak (Enactive Learning)

    Bandura yakin bahwa perilaku yang kompleks dapat dipelajari ketika manusia memikirkan dan mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi dari perilaku tersebut. Konsekuensi-konsekuensi sebuah respons memiliki tiga fungsi. Pertama, konsekuensi-konsekuensi respons menginformasikan efek-efek tindakan. Kedua, konsekuensi-konsekuensi respons memotivasi perilaku antisipatif. Ketiga, konsekuensi respons-respons memperkuat perilaku.

    Bandura (1986) yakin bahwa meskipun penguatan sering kali tidak disadari dan bekerja otomatis namun, campur tangan kognitif juga mempengaruhi pola-pola perilaku yang kompleks. Dia yakin bahwa pembelajaran jauh lebih efisien ketika pembelajar secara kognitif terlibat di dalam situasi pembelajaran dan memahami perilaku mana yang dapat menghasilkan respons-respons yang tepat.

    Bandura percaya bahwa perilaku baru dapat dicapai lewat dua jenis pembelajaran utama: pembelajaran dengan mengamati dan pembelajaran dengan bertindak.

    PENYEBAB RESIPROK TRIADIK

    Teori kognitif sosialnya meyakini fungsi psikologis bekerja dalam bentuk penyebab resiprok triadik. Sistem ini menyatakan bahwa tindakan manusia adalah hasil dari interaksi tiga variabel yaitu lingkungan, perilaku dan pribadi.

    KEAGENAN MANUSIA

    Teori kognitif sosial mengambil sudut pandang keagenan terhadap kepribadian, artinya manusia memiliki kapasitas untuk melatih kendali atas hidupnya. Keagenan manusia (human agency) merupakan esensi kemanusiaan. Bandura (2001) yakin bahwa manusia adalah makhluk yang sanggup mengatur dirinya, proaktif, reflektif, dan mengorganisasikan diri, selain memiliki juga kekuatan untuk memengaruhi tindakan mereka sendiri demi menghasilkan konsekuensi yang diinginkan.

    Ciri-Ciri Utama Keagenan Manusia
    1. Intensionalitas, mengacu kepada tindakan-tindakan yang dilakukan dengan intensi tertentu.
    2. Prediksi, manusia saat menetapkan tujuan, mengantisipasi hasil tindakan, dan memilih perilaku mana yang dapat menghasilkan keluaran yang diinginkan serta menghindari yang tidak diinginkan.
    3. Refleksi diri, manusia adalah penguji fungsi dirinya sendiri, yang dapat memikirkan dan mengevaluasi sendiri motivasi, nilai, makna, dan tujuan hidupnya, bahkan sanggup memikirkan ketepatan pemikirannya sendiri.
    4. Kepercayaan diri, keyakinan bahwa mereka sanggup melakukan tindakan-tindakan yang akan menghasilkan efek yang diinginkan.
    Kemampuan Diri untuk Memengaruhi Hasil yang Diharapkan (Self-Efficacy)

    Bandura (2001) mendefinisikan self efficacy ”keyakinan manusia pada kemampuan mereka untuk melatih sejumlah ukuran pengendalian terhadap fungsi diri mereka dan kejadian-kejadian di lingkungannya,” dan dia juga yakin kalau ”self-efficacy adalah fondasi keagenan manusia.”
    Bandura membedakan antara ekspektasi-kemampuan-memengaruhi-hasil (efficacy expectation) dan ekspektasi hasil (outcome expectation). Ekspektasi-kemampuan-memengaruhi-hasil mengacu pada keyakinan manusia bahwa mereka memiliki kesanggupan untuk melakukan perilaku tertentu, sementara ekspektasi hasil mengacu kepada prediksi terhadap konsekuensi dari perilaku yang diinginkan.
    Self-Efficacy pribadi didapatkan, dikembangkan, atau diturunkan melalui satu atau dari kombinasi dari empat sumber berikut (Bandura, 1997):
    1. Pengalaman-Pengalaman tentang Penguasaan. Sumber paling berpengaruh bagi self-efficacy adalah pengalaman-pengalaman tentang penguasaan (mastery experiences), yaitu performa-performa yang sudah dilakukan di masa lalu (Bandura, 1997).
    2. Pemodelan Sosial. Yaitu pengalaman-pengalaman tak terduga (vicarious experiences) yang disediakan orang lain.
    3. Persuasi Sosial. Self-efficacy dapat juga diraih atau dilemahkan lewat persuasi social. Efek-efek dari sumber ini agak terbatas namun, dalam kondisi yang tepat, persuasi orang lain dapat meningkatkan atau menurunkan self-efficacy.
    4. Kondisi Fisik dan Emosi. Emosi yang kuat biasanya menurunkan tingkat performa. Ketika mengalami rasa takut yang besar, kecemasan yang kuat dan tingkat stres yang tinggi, manusia memiliki ekspektansi self-efficacy yang rendah.
    PENGATURAN DIRI

    ☻ Faktor-Faktor Eksternal Pengaturan Diri
    1. Faktor eksternal menyediakan standar untuk mengevaluasi perilaku kita sendiri.
    2. Faktor-faktor eksternal memengaruhi pengaturan diri dengan menyediakan cara-cara penguatan.
    Faktor-Faktor Internal Pengaturan Diri
    1. Observasian Diri (Self-Observation) terhadap performa yang sudah dilakukan. Manusia sanggup memonitor penampilannya meskipun tidak lengkap atau akurat.
    2. Proses Penilaian (Judgmental Process) membantu meregulasi perilaku melalui proses mediasi kognitif. Proses penilaian bergantung pada empat hal: standar pribadi, performa-performa acuan, nilai aktivitas, dan penyempurnaan performa.
    3. Reaksi Diri (Self Reaction). Manusia merespons positif atau negatif perilaku mereka tergantung kepada bagaimana perilaku ini diukur dan apa standar pribadinya.
    PERILAKU YANG DISFUNGSIONAL

    ☻ Depresi
    Standar pribadi dan tujuan yang tinggi dapat mengarahkan kita kepada pencapaian dan kepuasan diri. Namun ketika manusia menetapkan tujuan terlalu tinggi, mereka akan lebih mudah gagal. Kegagalan sering membawa manusia kepada depresi, kemudian memandang rendah nilai pencapaian mereka sebelumnya.
    Depresi disfungsional dapat terjadi di salah satu subfungsi pengaturan diri: Pertama, selama observasi diri, manusia bisa keliru menilai performa mereka atau mendistorsi memori tentang pencapaian di masa lalu. Kedua, pribadi yang depresi lebih mudah membuat penilaian yang keliru.

    ☻ Fobia-Fobia
    Fobia adalah rasa takut yang cukup kuat dan bertahan lama, cukup untuk memberikan efek yang melumpuhkan seseorang dalam hidup sehari-harinya. Fobia dan rasa takut dipelajari melalui kontak langsung, generalisasi yang tidak tepat, khususnya dari pengalaman mengamati. Fobia sulit dihilangkan karena pribadi yang mengalaminya berusaha keras menghindari objek yang mengancam dirinya.
    Perilaku disfungsional (penghindaran) terbentuk dan dipertahankan oleh interaksi mutual ekspektansi seseorang (keyakinan bahwa mereka akan diserang), lingkungan eksternal (taman kota), dan faktor-faktor perilaku (pengalaman mereka sebelumnya dengan rasa takut).

    ☻ Agresi
    Menurut Bandura, perilaku agresif terbentuk dari mengobservasi orang lain, pengalaman langsung dengan penguatan positif dan negatif, pelatihan, atau instruksi, dan keyakina yang ganjil. Bandura, Dorrie Ross, dan Sheila Ross (1963) menemukan bahwa anak-anak yang mengamati orang lain bersikap agresif menunjukkan perilaku lebih agresif daripada kelompok terkontrol anak yang tidak melihat tindakan agresif.
    Beberapa orang berpendapat bahwa anak-anak yang melihat perilaku kekerasan ditelevisi akan memiliki efek merusak pada anak. Artinya, anak-anak yang mengalami agresi terang-terangan akan lebih termotivasi untuk bertindak dengan cara-cara yang agresif. Bandura, Ross & Ross (1963) membuktikan bahwa kekerasan di televisi tidak menghentikan sifat agresi penontonnya, malah semakin menambah sikap agresif penontonnya.

    TERAPI
    Tujuan utama terapi kognitif sosial adalah pengaturan diri. Terapis harus menggunakan strategi, yaitu menggeneralisasikan perubahan itu ke situasi lain, dan mempertahankan perubahan-perubahan itu dengan mencegah pasien jatuh kembali ke perilaku yang sama.
    Bandura (1986) menyarankan sejumlah pendekatan dasar terapi. Pertama adalah pemodelan menyolok atau terang-terangan. Kedua pemodelan tersamar atau kognitif, terapis melatih pasien untuk memvisualisasikan model melakukan perilaku yang menakutkannya. Ketiga penguasaan tindakan, meminta pasien melakukan sejumlah perilaku yang menghasilkan ketakutan yang menyimpang.


    KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TEORI BELAJAR SOSIAL
    • Kelebihan
    1. Berfokus pada situasi yang mempengaruhi perilaku
    Satu karakteristik dari struktural, trait, dan teori organisme adalah bahwa mereka menempatkan penyebab perilaku utama di dalam diri seseorang dan oleh karena itu teori ini meramalkan bahwa seseorang akan bertindak sama pada situasi yang berbeda. Dengan begitu Freud, mengharapkan seorang anak dengan superego yang kuat menjadi sangat sulit dikontrol dalam kebanyakan situasi. Pada hal yang sama Piaget relatif tidak tertarik pada kenyataannya bahwa konservasi diperoleh untuk area tertentu sebelum yang lainnya atau memperoleh sebagian pengetahuan baru boleh jadi diperlihatkan di dalam situasi yang lainnya. Teori belajar, pada lawannya telah mengambil cara berpendirian berperilaku seseorang pada kenyataannya jenis tipikal dari situasi ke situasi yang lain, tergantung pada stimulus dan penguat yang ditemukan pada masing-masing situasi dan pada pengalaman masa lalu apakah yang diperoleh seseorang pada situasi tersebut.
    2. Berfokus pada alat pengamatan, perilaku sosial emosional dan motivasi
    Walaupun banyak ahli teori yang mengakui bahwa pikiran dalam suatu konteks sosial, mereka tidak banyak menyediakan keterangan yang detail. Pembatasan ini adalah suatu masalah yang serius. Ada 2 pertanyaan inti di sini yaitu: pertama, bagaimana pengalaman sosial mempengaruhi perkembangan kognitif? Berkenaan dengan pertanyaan pertama, teori belajar sosial menguraikan bagaimana modeling, instruksi dari lainnya dan pelajaran seolah mengalami sendiri tentang hukuman dan penguatan mengabarkan informasi untuk anak-anak. Banyak informasi baru yang datang dari yang lainnya dibanding dari trial and error yang langsung dialami oleh dunia fisik. Bahkan gaya pengolahan informasi, seperti pengambilan keputusan yang mengikuti kata hati dapat ditiru. Kedua, bagaimana cara pengembangan teori mempengaruhi pemahaman peristiwa sosial anak-anak? Berkenaan dengan pertanyaan ini, jawaban Bandura adalah perkembangan kognitif pengertian sosial dengan cara berikut ketika anak-anak menjadi semakin terampil dalam mengambil keputusan, mewakili peristiwa secara simbolis, menggunakan strategi memori dan menyusun kembali pengetahuan yang lalu, hal ini menjadi lebih efisien pada pemahaman perilaku yang mereka amati.[1]
    1. 3. Memberikan pengertian tentang gejala-gejala perkembangan anak.[2]
      1. 4. Memberikan pengertian mengenai peranan interaksi antara lingkungan dengan anak, misalnya : ibu dengan anaknya yang sedang belajar bahasa.[3]
    • Kelemahan
    1. 1. Perhatian tentang perkembangan kognitif tidak cukup
    Teori Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan melalui sistem kognitif orang tersebut. Bagaimanapun, alam dari sistem kognitif, bagaimana itu berkembang, dan bagaiman pengembangan ini mempengaruhi penelitian belajar mengutamakan untuk keberhasilan. Walaupun teori ini telah bebas mengadopsi teori pengolahan informasi yang telah diperhitungkan dari pemikiran, hanya gambaran umum yang diperhitungkan, seperti penyajian simbolis, perhatian, penyimpanan informasi, konstruksi aturan dan verifikasi.[4]

    KESIMPULAN
    Teori belajar sosial adalah sebuah teori belajar yang relative masih baru dengan teori belajar lainnya. Salah satu tokohnya adalah Albert Bandura, seorang psikolog pada Universitas Stanford Amerika Serikat.
    Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks atas stimulus (S-R bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.
    Pendekatan teori belajar sosial lebih ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespon) dan imitation (peniruan). Selain itu pendekatan belajar sosial menekankan pentingnya penelitian empiris dalam mempelajari perkembangan anak-anak. Penelitian ini berfokus pada proses yang menjelaskan perkembangan anak, faktor sosial dan kognitif.

    Teori belajar sosial melalui tekanannya pada penelitian variable yang menimbulkan perilaku tertentu. Kita bukan reactor pasif terhadap kondisi situasional. Hubungan antara perilaku dan situasi yang kita jumpai dalam kehidupan bersifat timbal balik. Melalui tindakannya sendiri orang menciptakan kondisi lingkungan yang mempengaruhi perilakunya. Teori ini menuntun kita untuk melihat tindakan manusia sebagai reaksi terhadap lingkungan tertentu dan untuk memperhatikan cara lingkungan mengontrol perilaku, serta cara mengubah lingkungan untuk memodifikasi perilaku, penerapan prinsip dapat menimbulkan maladaptive.

    DAFTAR PUSTAKA
    Feist, J., dan Gregory J. Feist. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


    [1] Patricia H. Miller. Theories of Developmental Psychologist. Hal. 221-223
    [2] John W. Santrock. Life Span Development. Hal. 48
    [3] F. J. Monks. Psikologi Perkembangan. Hal. 156
    [4] Patricia H. Miller. Theories of Developmental Psychologist. Hal. 225

    sumber: Google, (lupa tepatnya)

    Kamis, 02 Juni 2011

    Seminar "Brainwashing dalam Perspektif Psikologi"



    Psikologi baru saja menyelesaikan satu lagi kegitannya.  Yaitu, satu diskusi tentang “Brainwashing dalam Perspektif Psikologi”.  Acara dilakukan Selasa, 31/5/11, ruang multimedia, Kampus A, Universitas Jayabaya, Pulo Mas, Jakarta.

    Berawal dari kasus yang dilakukan oleh sebuah organisasi dengan menamakan diri NII, yang oleh banyak media disebut dengan brainwashing atau pencucian otak, maka kami memutuskan untuk mengambil tema tersebut, yaitu brainwashing di bahas dalam perspektif psikologi.  Nah, sebenarnya apa si yang dimaksud brainwashing?.  Pembicara kita kali ini adalah Drs. Widura Imam Moestopo M.si, seorang Psikolog sekaligus militer.

    Menurut beliau, brainwash memiliki pengertian, persuasi kohesif atau ajakan yang memaksa, yang dilakukan secara sistematis terhadap individu untuk merubah kepercayaan (belief), sikap dan nilai-nilai lama dari individu sesuai tujuan.  Biasanya berhubungan dengan politik dan agama.  Dalam hal ini mereka menggunakan teknik-teknik tertentu yang dirancang untuk memanipulasi pikiran atau tindakan yang berhubungan dengan dorongan, keinginan atau pengetahuan individu.

    Jadi brainwashing adalah persuasi dengan cara memaksa.  Namun, beliau menggarisbawahi bahwa, persuasi dan brainwash berbeda, tapi beberapa teknik persuasi ditemukan pada tindakan brainwashing

    Brainwash sendiri, bukan merupakan istilah dari psikologi atau konstruk psikologi, tapi istilah yang muncul menjadi bahasa umum melalui karya wartawan Amerika, seorang ahli Timur, Edward Hunter.  Istilah tersebut menjadi populer karena publikasi media massa ketika menggambarkan perlakuan terhadap tentara Amerika di kamp Cina selama perang Korea di tahun 1950.

    Dijelaskan oleh beliau, terdapat tiga karakteristik individu yang mudah mengalami brainwashing

    1.      Individu dengan faktor psikis labil, seperti orang yang memiliki sifat peragu dan bingung terhadap identitas diri, tidak mandiri, dan orang yang banyak tahu tetapi tidak mendalami.
    2.      Individu dengan psikologis yang sombong dan angkuh, mengapa? Karena biasanya individu seperti ini yang memiliki kepercayaan diri berlebihan merasa apapun yang ia percaya pasti benar tanpa di dukung pengetahuan luas dan mendasar, justru mudah dipengaruhi.
    3.      Individu yang mengalami tekanan fisik dan mental.  Karena dengan kondisi seperti itu, individu tersebut jadi lelah, tidak berdaya, hingga mengurangi kemampuan berfikir sehingga akan dengan mudah di brainwash

    Karakteristik di nomor pertama merupakan yang paling rawan terkena brainwash.  Umumnya mereka yang berusia 18-20 tahun adalah target.  Usia demikian adalah usia dewasa dini, merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan sulit, sehingga dengan keadaan sulit tersebut, mereka mencoba memperpanjang ketergantungan dengan mempertahankan siswa atau mahasiswa.

    Pada diskusi tersebut, kita memiliki narasumber, namanya adalah Dyan Kemala Arrizqi.  Jika dihubungkan dengan kasus yang terjadi, setali tiga uang.  Ia membenarkan bahwa, target brainwash tersebut umumnya memang berumur antara 18-20 tahun.

    Ada beberapa teknik umum yang dilakukan brainwasher terhadap target.  Diantaranya adalah dengan teknik Confession.  Teknik ini dilakukan untuk menghancurkan ego individu melalui pengakuan bahwa dirinya lemah dan secara mendalam mengakui bahwa dirinya penuh keragu-raguan.  Kemudian Guilt & Feel of Guilt.  Yaitu satu teknik dengan tujuan memperkuat kebutuhan untuk “keselamatan” (kpd pihak brainwasher) dengan meningkatkan rasa berdosa/bersalah terhadap gaya hidup dan hal-hal yang berhubungan dengan waktu sebelumnya.  Artinya target dibuat merasa bersalah, merasa apa yang telah dilakukan diwaktu sebelumnya adalah kesalahan yang sangat besar dan tidak boleh diulangi dan di dekati sekalipun.

    Kemudian brainwasher juga memiliki langkah utama brainwash, yaitu dengan membuat target mengalami mental breakdown, mereka akan mengalami depresi berat dan disorientasi.  Mereka kehilangan pegangan realitas dan merasa benar-benar tersesat dan sendirian.

    Jika brainwasher berhasil melakukan hal tersebut, akan terlihat dari langkah perubahan perilaku.  Target akan menjadi sadar bahwa ada kontrol dan ketergantungan terhadap orang lain, kemudian ia akan benar-benar tergantung, lalu akan menyebabkan konflik internal  serta gangguan pada pola perilaku sebelumnya, hingga ia merasa “menemukan” bahwa ada solusi  yang dapat diterima terhadap masalah yang dihadapi.  Jika sudah begitu brainwasher dan target hanya mereintegrasi nilai-nilai dan pengenalan terhadap sistem pengendalian.  Pada titik ini target siap dirampas, ia tidak paham dengan jelas siapa dia sebenarnya dan yang terjadi padanya.  Disnilah brainwasher menyiapkan tawaran untuk berpindah ke sesuatu yang ditawarkannya yang akan menyelamatkan target dari penderitaan.

    Beberapa tips diberikan oleh beliau agar kita bisa bertahan dari brainwashing tersebut.
    1.      Melawan “kontrol” dan kembangkan dorongan moril (semangat)
    2.      Kenali tujuan realistik bagi diri
    a.       Pribadi yang kuat
    b.      Sikap tidak mudah menyerah sebagai prestasi
    c.       Sikap realistik menyadari kelebihan dan keterbatasan diri
    d.      Memiliki pengetahuan tentang brainwashing dan tujuannya
    e.       Cara praktis mengenali tujuan spesifik brainwashing
    f.       Mampu kendalikan tekanan dengan cara pelajari cara control reaksi diri terhadap tekanan yang spesifik.

    Semoga bermanfaat.  Salam Satu Psikologi.