Dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, sering sekali kita di hadapkan dalam proses negosiasi. Tujuan dari proses negosiasi ini, adalah bagaimana sikap kita dalam memecahkan sebuah permasalahan, sehingga hasil dari negosiasi tersebut dapat menguntungkan semua pihak (win-win solution). Pemasalahan yang tengah terjadi tentunya melibatkan pihak orang lain (sosial). Tetapi dapat kita lihat, negosiasi tersebut sering menghasilkan sebuah keputusan atau tindakan yang mengakibatkan salah satu dari kita kecewa (lose-win), atau kedua-duanya kecewa (lose-lose).
Bila kita di hadapkan dalam situasi keluarga kita, misalnya sang adik ingin meminjam buku yang sedang kita baca, kemudian kita memutuskan, dengan menahan marah, dan memilih untuk memberikan buku yang sedang kita baca (padahal buku tersebut sangat kita butuhkan, sedangkan sang adik tidak terlalu membutuhkan), dalam hal ini kita memberikan buku tersebut dengan tujuan agar sang adik tidak marah-marah di depan keluarga kita. Bila itu terjadi, kita telah memilih ‘lose/win solution’.
Bisa jadi kita memutuskan untuk meninggalkan pergi sang adik, dan membawa buku tersebut, sehingga kita masih dapat membacanya, dan kita mengetahui sang adik marah-marah. Jelas kita telah memaksakan ‘win/lose’ solution kepada adik kita. Atau justru kita ikut tidak bisa mengendalikan emosi, sehingga kita ngomel-ngomel kepada adik kita, itu merupakan sebuah tindakan yang ‘lose/lose’.
Lalu bagaimana kita dapat menerapkan win-win solution? Dalam hal ini, Ada tahapan untuk menuju ’think win-win’. Pertama character building. Dalam membangun karakter ini bukan sesuatu yang instan. Sebuah karakter hanya bisa terjadi melalui proses pembelajaran yang didasari atas kemauan.
Karakter pertama adalah apa yang disebut dengan integritas. Memiliki integritas adalah sesuatu yang tidak mudah. Bila anda berkata jujur, anda mampu mengatakan sesuatu sesuai kenyataannya. Bila anda orang yang memiliki integritas, anda mampu mengelola diri anda untuk melakukan seperti yang telah pernah anda katakan. Anda mengajarkan adik anda untuk berkata jujur, tapi justru ketika kita mempraktekan sebuah ketidak jujuran di depan adik kita, adik kita akan merekam kita sebagai orang yang memiliki integritas rendah.
Kita mungkin bisa coba praktekan. Kita coba membangun sebuah tauladan integritras kepada adik anda, selalu menepati janji, selalu memberi contoh nilai-nilai pada tindakan kesehariaan. Bila kemudian terjadi keadaan dimana adik anda kemudian ngambek minta buku yang sedang kita baca (padahal buku tersebut sangat kita butuhkan, sedangkan sang adik tidak terlalu membutuhkan), kemudian dengan serius kita mengatakan kepada adik kita untuk berjanji memberikanya bila kita telah selesai membacanya, kemungkinan besar adik anda akan lebih mudah percaya dan ‘melunak’.
Di lain pihak bila kita selalu melanggar janji kita di depan adik kita, tentu saja janji apa pun kepada adik kita, tidak bisa dengan mudah meredakan keinginan sang adik.
Karakter kedua adalah sebuah kedewasaan. Dewasa fisik belum tentu berarti dewasa pikiran dan hati. Dewasa pikiran dan hati adalah orang yang mampu menyeimbangkan antara keberanian dan pertimbangan akan toleransi. Selalu belajar untuk mengasah kemampuan untuk selalu menyeimbangkan ‘angsa’ dan ‘telur emas’ yang dimilikinya. Sehingga secara proaktif selalu tahu kapan harus berkata ‘ya’ dan berkata tidak.
Sebuah keberanian bisa saja bagi orang lain yang melihat bisa memberikan sebuah persepsi ‘win/lose’. Dilain pihak, toleransi terhadap suatu hal dapat memberikan persepsi orang akan ‘lose/win’ terhadap kata orang. Hanya saja dibutuhkan orang mampu menyeimbangkan antara berani dan selalu mempertimbangkan toleransi, bagi mereka yang mampu untuk tidak terpengaruh atas persepsi orang lain, mampu berbuat atas pilihan tindakannya. Sehingga bagi saya, ‘win/win’ adalah sebuah proses, tidak bisa dilihat hanya sepotong momen saja.
Karena itulah dalam kita hidup berinteraksi dengan keluarga terutama, dengan tetangga kita, teman kantor dalam keseharian kita, justru disitulah kita bisa menanyakan kepada diri kita apakah kita cukup dewasa dalam berinteraksi dengan mereka.
Kemudian karakter ketiga adalah apa yang disebut Abundance Mentality. Mentalitas akan kelimpahan. Sebuah paradigma yang melihat bahwa kalau kita mau mencari, masih banyak alternatif yang kita inginkan di luar sana.
Mungkin akan lebih mudah bila kita membayangkan kebalikan dari mentalitas ini adalah scarcity mentality, adalah mentalitas yang melihat seolah dunia seperti sepotong kue. Ketika orang lain sudah mengambil separuh potongan kue, kita akan selalu beranggapan bahwa apa yang kita akan dapat tinggal separuh yang tersisa. Mentalitas abundance melihat bahwa masih banyak kemungkinan lain selain potongan kue yang tinggal separuh. misalnya ketika tiba-tiba anda melihat tetangga anda memarkir mobilnya di halaman rumah anda tanpa minta ijin dari anda. Bisa jadi memang tetangga anda memang keliru dan berbuat itu karena menganggap hal itu sebagai hal yang wajar. Atau bisa jadi memang tetangga anda ada keperluan mendesak dan tidak punya pilihan lain untuk memarkir di halaman rumah anda dan tidak sempat untuk meminta ijin anda. Tapi apa pun itu, bila saja saat anda melihat itu dan anda merasa terganggu, bisa jadi mentalitas anda belumlah sepenuhnya abundance. Anda merasa, ketika tetangga anda memarkir mobil dihalaman rumah anda tanpa ijin, seolah separuh kue sudah terenggut oleh orang lain. Sehingga anda akan selalu khawatir bahwa sisa kue yang tersisa juga akan di ambil orang lain. Abundance mentality melihat itu akan berusaha memberi pengertian kepada dirinya sendiri, bahwa hidup adalah jauh lebih dari hanya sekedar ‘memakai’ halaman rumah untuk parkir mobil
Jadi, menurut saya, praktek ‘think win/win’ hanya bisa terbukti melalui keseharian kita. Bagaimana kita berinteraksi dengan keluarga kita, anak kita, pasangan kita. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja dengan kita di rumah, interaksi kita keseharian dengan tetangga kita. Bagaimana kita menyapa orang-orang yang selalu bersama kita di tempat kerja, sopir kantor, office-boy, teman sejawat. Karena dengan merekalah sebenarnya arti ‘win/win’ bisa terasakan maknanya,..cobalah…
(artikel yang pernah di publikasikan www.pembelajar.com)