Jumat, 20 Mei 2011

TIPS MENGHINDARI RASA MALAS

Tiga Tips untuk Menghindari Rasa Malas


Banyak di antara kita yang punya “penyakit” suka menunda-nunda pekerjaan. Penyakit yang sebetulnya adalah kebiasaan, seringkali disebabkan karena kita malas mengerjakan sesuatu.

Menurut penelitian, kebiasaaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena ketakutan menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan bukan hanya satu atau dua tahun ke depan tetapi satu atau dua menit dari sekarang.
 
Kebiasaan malas timbul karena kecenderungan mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif.
Menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress karena mau tidak mau satu saat kita harus mengerjakannya. Dan di waktu yang sama kita juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.

Dalam beberapa hal, kita pun mungkin akan kehilangan momen untuk berkembang ketika mengatakan “tidak” terhadap sebuah peluang.

Di bawah ini diberikan beberapa tips untuk mengatasi rasa malas:
Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”
Katakan setiap kali bekerja:”Saya mulai sekarang”.
Cara pandang ini akan menghindarkan kita dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Kita membuat sederhana tugas di depan dengan bertindak positif. Fokus kita hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.
Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”
Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa kita tidak harus melakukan pekerjaan yang kita tidak mau.

Kita mau mengerjakan tugas karena memang kita ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Kita selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa kita melakukan apa saja yang kita tidak mau lakukan.

Anda Bukan Manusia Sempurna Berpikir bahwa harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa kita dalam kondisi mental tertekan. Mengakibatkan kita mungkin aka malas memulainya. Kita harus bisa menerima bahwa kita pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.
 
Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan dengan sempurna akan membuat kita memandang pekerjaan tersebut hal yang besar dan rumit.
 
Tiga tips di atas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya
sehingga kita tidak menyia-nyiakan kesempatan karena kita malas mengerjakannya.



WIN-WIN SOLUTION



Dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, sering sekali kita di hadapkan dalam proses negosiasi.  Tujuan dari proses negosiasi ini, adalah bagaimana sikap kita dalam memecahkan sebuah permasalahan, sehingga hasil dari negosiasi tersebut dapat menguntungkan semua pihak (win-win solution).  Pemasalahan yang tengah terjadi tentunya melibatkan pihak orang lain (sosial).  Tetapi dapat kita lihat, negosiasi tersebut sering menghasilkan sebuah keputusan atau tindakan yang mengakibatkan salah satu dari kita kecewa (lose-win), atau kedua-duanya kecewa (lose-lose). 

Bila kita di hadapkan dalam situasi keluarga kita, misalnya sang adik ingin meminjam buku yang sedang kita baca, kemudian kita memutuskan, dengan menahan marah, dan memilih untuk memberikan buku yang sedang kita baca (padahal buku tersebut sangat kita butuhkan, sedangkan sang adik tidak terlalu membutuhkan), dalam hal ini kita memberikan buku tersebut dengan tujuan agar sang adik tidak marah-marah di depan keluarga kita. Bila itu terjadi, kita telah memilih ‘lose/win solution’.

Bisa jadi kita memutuskan untuk meninggalkan pergi sang adik, dan membawa buku tersebut, sehingga kita masih dapat membacanya, dan kita mengetahui sang adik marah-marah. Jelas kita telah memaksakan ‘win/lose’ solution kepada adik kita. Atau justru kita ikut tidak bisa mengendalikan emosi, sehingga kita ngomel-ngomel kepada adik kita, itu merupakan sebuah tindakan yang ‘lose/lose’.

Lalu bagaimana kita dapat menerapkan win-win solution? Dalam hal ini, Ada tahapan untuk menuju ’think win-win’.  Pertama character building.  Dalam membangun karakter ini bukan sesuatu yang instan. Sebuah karakter hanya bisa terjadi melalui proses pembelajaran yang didasari atas kemauan.

Karakter pertama adalah apa yang disebut dengan integritas. Memiliki integritas adalah sesuatu yang tidak mudah. Bila anda berkata jujur, anda mampu mengatakan sesuatu sesuai kenyataannya. Bila anda orang yang memiliki integritas, anda mampu mengelola diri anda untuk melakukan seperti yang telah pernah anda katakan. Anda mengajarkan adik anda untuk berkata jujur, tapi justru ketika kita mempraktekan sebuah ketidak jujuran di depan adik kita, adik kita akan merekam kita sebagai orang yang memiliki integritas rendah.

Kita mungkin bisa coba praktekan. Kita coba membangun sebuah tauladan integritras kepada adik anda, selalu menepati janji, selalu memberi contoh nilai-nilai pada tindakan kesehariaan. Bila kemudian terjadi keadaan dimana adik anda kemudian ngambek minta buku yang sedang kita baca (padahal buku tersebut sangat kita butuhkan, sedangkan sang adik tidak terlalu membutuhkan), kemudian dengan serius kita mengatakan kepada adik kita untuk berjanji memberikanya bila kita telah selesai membacanya, kemungkinan besar adik anda akan lebih mudah percaya dan ‘melunak’.

Di lain pihak bila kita selalu melanggar janji kita di depan adik kita, tentu saja janji apa pun kepada adik kita, tidak bisa dengan mudah meredakan keinginan sang adik.

Karakter kedua adalah sebuah kedewasaan. Dewasa fisik belum tentu berarti dewasa pikiran dan hati. Dewasa pikiran dan hati adalah orang yang mampu menyeimbangkan antara keberanian dan pertimbangan akan toleransi. Selalu belajar untuk mengasah kemampuan untuk selalu menyeimbangkan ‘angsa’ dan ‘telur emas’ yang dimilikinya. Sehingga secara proaktif selalu tahu kapan harus berkata ‘ya’ dan berkata tidak.

Sebuah keberanian bisa saja bagi orang lain yang melihat bisa memberikan sebuah persepsi ‘win/lose’. Dilain pihak, toleransi terhadap suatu hal dapat memberikan persepsi orang akan ‘lose/win’ terhadap kata orang. Hanya saja dibutuhkan orang mampu menyeimbangkan antara berani dan selalu mempertimbangkan toleransi, bagi mereka yang mampu untuk tidak terpengaruh atas persepsi orang lain, mampu berbuat atas pilihan tindakannya. Sehingga bagi saya, ‘win/win’ adalah sebuah proses, tidak bisa dilihat hanya sepotong momen saja.

Karena itulah dalam kita hidup berinteraksi dengan keluarga terutama, dengan tetangga kita, teman kantor dalam keseharian kita, justru disitulah kita bisa menanyakan kepada diri kita apakah kita cukup dewasa dalam berinteraksi dengan mereka.

Kemudian karakter ketiga adalah apa yang disebut Abundance Mentality. Mentalitas akan kelimpahan. Sebuah paradigma yang melihat bahwa kalau kita mau mencari, masih banyak alternatif yang kita inginkan di luar sana.
            

Mungkin akan lebih mudah bila kita membayangkan kebalikan dari mentalitas ini adalah scarcity mentality, adalah mentalitas yang melihat seolah dunia seperti sepotong kue. Ketika orang lain sudah mengambil separuh potongan kue, kita akan selalu beranggapan bahwa apa yang kita akan dapat tinggal separuh yang tersisa. Mentalitas abundance melihat bahwa masih banyak kemungkinan lain selain potongan kue yang tinggal separuh.  misalnya ketika tiba-tiba anda melihat tetangga anda memarkir mobilnya di halaman rumah anda tanpa minta ijin dari anda. Bisa jadi memang tetangga anda memang keliru dan berbuat itu karena menganggap hal itu sebagai hal yang wajar. Atau bisa jadi memang tetangga anda ada keperluan mendesak dan tidak punya pilihan lain untuk memarkir di halaman rumah anda dan tidak sempat untuk meminta ijin anda. Tapi apa pun itu, bila saja saat anda melihat itu dan anda merasa terganggu, bisa jadi mentalitas anda belumlah sepenuhnya abundance. Anda merasa, ketika tetangga anda memarkir mobil dihalaman rumah anda tanpa ijin, seolah separuh kue sudah terenggut oleh orang lain. Sehingga anda akan selalu khawatir bahwa sisa kue yang tersisa juga akan di ambil orang lain.  Abundance mentality melihat itu akan berusaha memberi pengertian kepada dirinya sendiri, bahwa hidup adalah jauh lebih dari hanya sekedar ‘memakai’ halaman rumah untuk parkir mobil
            
 Jadi, menurut saya, praktek ‘think win/win’ hanya bisa terbukti melalui keseharian kita. Bagaimana kita berinteraksi dengan keluarga kita, anak kita, pasangan kita. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja dengan kita di rumah, interaksi kita keseharian dengan tetangga kita. Bagaimana kita menyapa orang-orang yang selalu bersama kita di tempat kerja, sopir kantor, office-boy, teman sejawat. Karena dengan merekalah sebenarnya arti ‘win/win’ bisa terasakan maknanya,..cobalah…
(artikel yang pernah di publikasikan www.pembelajar.com)



Rabu, 04 Mei 2011

Blog BEM Psi Jayabaya




Assalamualaikum wr wb.  Syukur Alhamdulillah, dengan segala kelebihan dan kekurangan akhirnya Blog Psikologi Jayabaya ini rampung.  Kami dari BEM merasa perlu membuat akun blog ini sebagai media tambahan kami untuk memublikasikan atau menginformasikan serta sebagai bentuk laporan tidak resmi kami, mengenai program-program kerja jangka panjang maupun jangka pendek.

Sebenarnya sejak dulu sudah ada keinginan ataupun niat dari kami untuk membuat satu media yang berisi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Psikologi Jayabaya.  Namun karena satu lain hal, akhirnya baru terbentuk sekarang.

Blog ini kami buat karena satu hal yang mungkin sederhana dan sepele, yaitu iri hati.  Ya Iri hati.  Iri karena melihat banyak Fakultas Psikologi diluar sana memiliki akun-akun di internet untuk mengembangkan keilmuan di universitasnya.  Iri karena melihat begitu banyak fakultas Psikologi yang memanfaatkan internet sebagai media untuk menginformasikan dan memublikasikan acara-acaranya.   Iri karena ketika mencari suatu tugas, selalu sulit dan begitu dapat selalu dari Fakultas Psikologi di luar sana.  Iri karena mereka begitu eksis.  Kemana Psikologi Jayabaya!!??hehehe....(lebay).  Tidak, yang sebenarnya adalah karena kurangnya media informasi dan publikasi tentang keilmuan Psikologi, dan kegiatan mahasiswa Psikologi di Universitas Jayabaya.

Lalu kami pun memiliki tujuan mengapa akun blog ini dibuat:
  1. Sebagai media informasi dan publikasi program jangka panjang dan pendek BEM.  Mungkin sebagian dari teman-teman belum dan ingin tahu program-program kerja dari BEM baik yang sudah berlalu dan yang akan dilaksanakan, nah blog ini dibuat sebagai media informasi dan publikasi program kerja kami kepada teman-teman.  
  2. Media kritik dan saran untuk BEM.  BEM sebagai sebuah lembaga kemahasiswaan perlu kritik dan saran untuk memajukan fakultas psikologi yang kita cintai ini.  Tentunya kritik dan saran objektif  serta membangun yang diperlukan disini.  Teman-teman bisa melakukan itu disini sebagai salah satu wadah.
  3. Sebagai wadah untuk mengembangkan ilmu psikologi melalui tulisan.  Maksudnya adalah sebagai salah satu sarana atau tempat publikasi dan informasi tentang perkembangan ilmu psikologi 
  4. Diharapkan  dapat membantu teman-teman untuk mencari tugas kuliah.  Tulisan-tulisan di blog ini diharapkan dapat membantu teman-teman dalam mencari dan menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan.
Dengan  ini, kami berharap teman-teman Psikologi memberikan respon yang positif.  Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.  Dan jika teman-teman ingin memberikan tulisan-tulisan mengenai keilmuan psikologi, kami akan sangat terbantu.  Terima Kasih.  Salam Psikologi Satu.

Assalamualaikum wr wb